Lovina And My Unrequited Love For Indonesia



Kami tinggal selama dua hari di Lovina. Ini adalah tempat pertama yang kami singgahi selama road trip separo pulau Bali yang ceritanya bisa dibaca disini. Jadi dari pelabuhan Gilimanuk kami belok kiri melintasi Taman Nasional Bali Barat menuju arah Singaraja, dan beberapa kilometer sebelum memasuki kota maka terdapat pantai Lovina ini.

Ternyata Lovina adalah sebuah pantai yang sangat tenang dan damai dimana pantai ini dulunya adalah pelabuhan nelayan.  Sampai saat ini, berjarak kira-kira selemparan batu dari promenade pantai yang ada tugu ikan lumba-lumba itu, masih terdapat perkampungan nelayan. Tak banyak yang bisa dilihat di perkampungan ini, jadi kami abaikan saja.


Aku percaya seratus persen bahwa Lovina bukanlah nama asli pantai ini. Dalam sejarahnya orang Bali tak pernah punya aksara V. Jadi semua orang Bali akan mengatakan bahwa ini adalah Lopina, bukan Lovina. Jadi (sekali lagi), judul postingan ini juga asal-asalan dan tak nyambung samasekali dengan isinya, cuma tentang cerita kami di Lovina dan Singaraja.

Lovina adalah tempat yang tepat untuk mengungsi sejenak dari keramaian. Sebelumnya kami telah tinggal di Banyuwangi selama beberapa hari dan itu sangatlah bising, maka di sinilah kami bisa bersantai. Meskipun begitu bukan berarti Lovina adalah pantai yang membosankan malah sebaliknya banyak sekali yang telah kami lakukan disini, meskipun kebanyakan adalah bersantai.


Dan kami tidak naik perahu tempel pagi-pagi untuk melihat lumba-lumba menari di tengah laut sana, alasanku cuma aku buat-buat sendiri; lha iya kalau aku jadi lumba-lumbanya, apa ya aku akan bergembira jika sedang asik tidur di pagi hari buta, terus tiba-tiba di sekelilingku penuh dengan perahu motor yang suara bisingnya bikin marah sampai harus jumpalitan ke atas air? Ah sudahlah aku bukan lumba-lumba...!

Setelah sarapan yang kesiangan kami jalan-jalan, pertama pergi ke promenade kemudian melewati deretan penjual suvenir dan tetek-bengek khas pantai, dan tak lama kemudian sampai di perkampungan nelayan. Karena kampungnya jorok maka kami keluar kampung melintasi persawahan menuju ke jalan raya, bukan kembali ke pantai.

Di jalan raya depan pantai Lovina suasananya meriah dan menyenangkan, banyak toko penjual suvenir bagus dan beberapa restoran, kafe dan hotel. Suasana tempat liburan sangat terasa disini. Kami sempat duduk-duduk membeli es krim dan air dingin sembari menikmati suasana meriah. Setelahnya harus tukar beberapa ratus Euro di salah satu money changer karena tiba-tiba kami kehabisan uang. Dan kami sadar bahwa itu adalah uang Euro terakhir, selanjutnya kami harus menggunakan kartu.

Tengah hari terasa terik, tengkuk terasa nyeri, mungkin mulai terbakar karena aku selalu lupa semprot sunblock. Thomas juga sudah mulai berwarna merah sehingga penampakannya jadi mirip kepiting rebus. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel saja, lagi pula aku harus bekerja selama beberapa menit mengurus orderan dari warung online-ku.

Kami menginap di hotel Sea Breeze. Hotel ini mempunyai beberapa kamar bungalow ala gubuk derita terbuat dari anyaman bambu yang nyaman, sejuk dan tenang. Di depan setiap bungalow ada beranda dan di bawah kami merupakan kolam berisi ikan emas. Kumpulan bungalow ini terletak pada sebuah taman yang rindang dan tertata rapi, setiap bungalow mempunyai jalan setapak tersendiri.
Sementara di depan sana adalah restoran terbuka dan di sampingnya ada kolam renang mungil. Tepat di depan lingkup hotel inilah pantai Lovina berada. Jadi kami bisa bersantai di restoran sembari memandang pantai lepas.

Siang itu ketika matahari sedang gencar bersinar kami duduk-duduk santai di restoran. Sedikit bekerja, membahas rencana selanjutnya, pesan minuman dingin, berenang kecipak-kecipuk mendinginkan tubuh di kolam samping dan melihati orang-orang. Santai, malas dan nyaman di dalam udara yang hangat.







Sore hari ketika sinar matahari mulai kalem kembali, kami berkendara menuju kota Singaraja. Ternyata pada jam sore seperti itu Singaraja sedang macet, jadi kami mengalah dan parkir mobil di pinggir jalan dekat terminal bus. Dari sini kami jalan kaki saja menikmati suasana kota.

Kami memasuki gang-gang kecil di dalam kota. Suasana khas perkampungan kota-kota di Bali adalah tembok pemagar yang mengelilingi pekarangan rumah karena rumah Bali bukan sebuah rumah besar melainkan rumah-rumah kecil di dalam pekarangan yang tergabung di dalam sebuah tembok pagar tinggi.


Selanjutnya kami menghabiskan waktu di dalam terminal bis. Nah uniknya terminal bis di Bali begini; pagi hari tempat ini akan menjadi terminal bis dan angkot kemudian mulai sekitar jam 4 sore dimana arus lalu lintas sudah sepi, maka tempat ini akan disulap menjadi sebuah pasar, namanya Pasar Senggol. Bernama pasar senggol karena nanti menjelang malam pada puncak acara, maka orang terpaksa harus senggol-senggolan untuk bisa jalan saking banyaknya pengunjung. Itulah pasar senggol yang meriah dan tradisional.

Di dalam pasar senggol dadakan ini orang bisa membeli apapun, mulai garam dan keperluan dapur lainnya termasuk daging, ikan dan ayam sampai dengan barang elektronik. Bahkan ada juga penjual parfum, pakaian dan high heels.

Kami duduk-duduk ngopi di sebuah warung pinggir pasar senggol, rasanya menyenangkan melihat tingkah laku dan kesibukan orang di pasar. Suasana seperti inilah yang paling aku ingat ketika berada di Jerman, suasana yang meriah, santai, ramah, dan berwarna-warni khas Indonesia dengan segala kesemerawutan dan hiruk-pikuknya. Aku selalu merindukan ini...





Malam hari ketika hari sudah gelap kami kembali berkendara ke Lovina. Kami berenang di pantai dalam gelap dan ternyata kami tidak sendiri, ada beberapa orang juga berenang seperti kami. Udara yang hangat pada malam itu cukup baik untuk dipakai berenang sebelum menghabiskan malam di restoran hotel tempat kami menginap.

Keesokan harinya kami melanjutkan acara road trip berkendara naik ke atas dataran tinggi. Perhentian selanjutnya adalah Kintamani. Di Kintamani kami pergi ke Toya Bungkah, kuburan Trunyan, dan menginap di penelokan. Tunggu kelanjutannya ya....

Apakah kalian pernah ke Lovina? Apa saja yang kalian lakukan dan bagaimana kesan kalian disana? Sangat menyenangkan bukan?


 


4 comments:

  1. ke Lovina beberapa kali tapi blm sempet nginep,biasanya transit otw ke Menjangan sih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menjangan? bagus sekali, kami malah kelewatan...

      Delete
  2. Baru pernah sekali ke Lovina, dan itupun buat media trip, jadi kurang santai.. Asik kayaknya kalo ke sana buat santai2 doang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Vira, Lovina adalah tempat cocok buat santai karena sunyi dan alami. Malam bisa sedikit nongkrong di kafe-kafe pinggir jalan, dan kalau mau menikmati adat budaya bisa sedikit berkendara ke kota Singaraja, dekat.

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)