Road Trip Separo Pulau Bali


Meskipun kondisi lalu lintas pulau Bali bikin geregetan dan takut-takut, tetapi acara road trip kami sangat menyenangkan. Kami menghabiskan waktu seminggu melintasi separo pulau Bali dengan berkendara santai dan nyaman, dan berhenti menginap sesuka hati di jalur yang kami lewati. Tanpa buru-buru dan tanpa tujuan pasti, hanya road trip.

Kami tidak punya itinerary khusus (sama seperti semua acara liburan kami sebelumnya), mau dimana atau mengapa dan berapa lama. Tapi rencana kami sangat jelas, yaitu cuma pergi ke pulau Bali pada hari senin dan harus berada di Jawa kembali pada hari senin pekan depannya, gampil kan? memang begitulah seharusnya liburan, terserah mau ngapain yang penting tepat berada di tempatnya pada saat-saat khusus misalnya jika itu menyangkut jadwal pesawat, atau bookingan hotel.


Waktu itu adalah 3 hari setelah perayaan Nyepi dan ketika kami tiba di pelabuhan Ketapang, masih terjadi kemacetan maksimal. Benar-benar maksimal macetnya: Kami harus menunggu selama 6 jam barulah bisa naik ferry! heboh kan? Ini adalah efek Nyepi yang masih terasa pada 3 hari setelahnya.

Keluar dari ferry aku kena giliran nyetir. Mobil kami masih baru, sekitar 2500 kilometer terpakai, oli-nya masih bening, dikasih pinjam oleh kakakku. Di pelabuhan Gilimanuk di setop oleh mas polisi, sama seperti mobil-mobil sebelumnya. Tetapi aku tidak begitu paham maksudnya kenapa mas polisi menyetop semua mobil jadi aku bertanya ada apakah gerangan? Rupanya mas Polisi tidak siap mendapat pertanyaan karena agak-agak kebingungan dan akhirnya jadi curiga melongok ke dalam mobil, sesaat kemudian dia berkata, "Ini mas, pemeriksaan rutin, sim dan STNK ya...". Kami bawa STNK dan aku punya sim internasional jadi kami boleh melanjutkan perjalanan. Pastilah mas Polisi tadi mikir.. oh itu orang tidak pernah ke Bali, diperiksa rutin saja pakai tanya-tanya.... :)


Jadi rute perjalanan kami adalah, dari Gilimanuk belok ke kiri, melintasi taman nasional yang seharusnya rindang dan lebat tetapi kami tidak bisa menikmati karena hari sudah gelap gegara macet 6 jam. Keluar dari Taman Nasional bertepatan dengan kelaparan. Di depan ada sebuah desa tetapi sudah sepi. Cari-cari warung pinggir jalan akhirnya ketemu. Setelah makan baru bisa berpikir jernih kembali. Jadi apakah kami akan menginap disini saja, di salah satu hotel yang banyak bertebaran di pinggir jalan?

Tapi katanya ibu warung tadi, Lovina tidaklah jauh, jadi kami berkendara terus. Sampai Lovina jam 10 malam. Pada jam segini tak banyak yang bisa dilakukan untuk pilih-pilih hotel jadi kami parkir di pinggir jalan dan mulai door to door cari hotel. 3 hotel telah kami datangi, yang satu penuh, satunya terlalu menyedihkan kondisinya, dan satunya tak cocok harga.



Ketemu hotel Sea Breeze tepat di pantai di sebelah promenade yang ada patung ikan dolfin itu. Ya sudah menginap disini saja.

Kami tinggal 2 hari di Lovina, menikmati suasana pantai yang tenang, sedikit bergembira di malam hari dan melihat-lihat kota Singaraja. Ini adalah daerah yang menyenangkan.


Perjalanan berlanjut menanjak menuju Kintamani. Setelah keluar dari kota Singaraja, sepanjang perjalanan adalah pemandangan yang spektakuler. Ada desa-desa kecil sederhana khas Bali dan kami menyempatkan berhenti sebentar pada sebuah desa menikmati secangkir kopi Kintamani. Diantara desa-desa terdapat tanah perkebunan kopi dan cengkeh berbukit-bukit dan nun jauh diatas sana ketika sampai di Penelokan, kami tak ada puasnya mengagumi keindahan alam perpaduan antara vulkano, bukit-bukit megah, jurang yang hijau dan danau Batur yang menenangkan hati. Kami merayakan keagungan alam ini dengan segelas red wine pada sebuah restoran di tepi jurang yang ada di pinggir jalan Penelokan.


Sebenarnya kami, atau aku, berencana tinggal di Toya Bungkah yang merupakan sebuah desa asri nan indah tepat di tepi danau Batur nun jauh di bawah sana tetapi karena alasan yang menyedihkan (ceritanya akan muncul pada postingan mendatang), maka kami kembali naik ke Penelokan dan menginap disini selama dua hari.

Tujuan selanjutnya adalah Ubud. Pada jalanan mudah, sepi dan nyaman seperti ini aku selalu kena giliran nyetir jadi harus konsentrasi penuh tetapi sekilas aku bisa melihat bahwa jalur ini tak kalah menariknya dengan jalur naik dari Singaraja menuju Kintamani. Kami sempat berhenti di pinggir jalan untuk membeli 'buah-buah eksotis yang aneh' menurut Thomas, dimana banyak sekali penjual buah menjajakan dagangannya silih berganti tepat di tepi jalan.

Sampai di Ubud kembali door to door mencari tempat menginap. Kali ini aku mengandalkan panduan buku lonely planet dan kami menemukan sebuah homestay nyaman tepat di jantung kota, tak jauh dari Monkey Forest, tempat favorit kami selama tinggal 2 hari di Ubud.


Dari Ubud kami menuju ke Kuta. Tentu saja kami menyempatkan diri berbelanja suka-suka di Pasar Seni Sukawati sembari menyambangi Bli Ketut, kenalan lamaku yang berjualan kerajinan di pasar seni. Aku mendapatkan beberapa cinderamata secara sukarela, sebenarnya aku tidak mau merugikan teman tetapi Bli Ketut mengancam bahwa jika aku membayarnya maka dia tak akan mau melihatku lagi di masa mendatang. Dia juga mengundang kami untuk singgah ke rumahnya di sebuah desa kecil dekat istana Tampaksiring tetapi sayang sekali kami tak punya waktu banyak di Bali.

Dulu aku tinggal bertahun-tahun di Denpasar dan sekarang ketika datang kembali, aku benar-benar tak bisa mengenali kembali. Jalan raya dari Gianyar ke Kuta melalui Gatsu Barat benar-benar berubah. Aku ingin mampir sejenak di terminal kenangan Ubung, tetapi sayang sekali aku tidak bisa menemukannya. Rupanya Denpasar mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Kami terpaksa harus parkir begitu saja di pinggir Jalan Raya Seminyak karena tak tahu harus kemana. Rencananya, aku akan membawa Thomas menginap di Seminyak tetapi apa daya semua telah berubah jadi aku cuma bisa bengang-bengong selama beberapa saat. Sembari bengong sembari minum dan pada akhirnya sekali lagi kami door to door cari tempat menginap. Menginap di Seminyak enak, kalau malam bisa jalan kaki pergi party di bar-bar mungil yang ada di sepanjang jalan Camplung Tanduk (padahal dulu waktu aku masih eksis di Bali, jalan ini bernama Dhyanapura!).

Jadi kriteria kamar kami di Seminyak adalah, apapun kondisinya yang penting punya tempat parkir karena sayang sekali jika mobil mulus masih kinclong seperti itu diparkir begitu saja di pinggir jalan. Pada akhirnya kami tinggal pada sebuah kamar kos tipikal rumah Bali, dan banyak burungnya, banyak ayam dan beberapa anjing yang ramah. Thomas sampai heran kok bisa ya kami tinggal bersama penduduk? Aku juga heran! Padahal awalnya aku cuma tanya, "Memek, kami mau kos dua malam boleh?" soalnya aku melihat dari luar pagar bahwa rumah sang Memek ini punya banyak kamar dan tempat parkir mobil.

Jadi rute road trip keliling separo Pulau Bali ini sebenarnya mengambil jalur standar kebanyakan pelancong di Bali, dimana pertama kami mendapatkan keindahan alam, tradisi dan ketenangan di Bali utara, kemudian menikmati mahakarya seni dan kebudayaan di Eat, Pray Love Ubud dan sedikit bersenang-senang disini, kemudian di lanjutkan ke Bali selatan yang hingar bingar tak ada matinya.

Rute selanjutnya adalah pulang ke Jawa. Sekali lagi ini adalah rute indah pesisir pantai. Di sebelah kiri jalan sepanjang Gianyar - Gilimanuk tak henti-hentinya pemandangan pantai, pedesaan dan lahan pertanian sementara di kanan jalan, nun jauh di atas sana terlihat pegunungan dan dataran tinggi Bali Utara yang menjulang gagah perkasa. Tentu saja kami berhenti dan mampir di sana-sini sepanjang perjalanan.



Bali memang mempunyai segalanya, dan semua orang akan menyukainya. Thomas saja yang baru pertama kali ke Bali langsung mempunyai kesan bagus disini dan ingin datang lagi dua tahun mendatang. Waktu aku mengingatkan bahwa dua tahun mendatang tujuan kami adalah ke kepulauan Maluku, dia tetap bersikeras, "Ya okay, dan kita akan bikin closing party di Kuta...".

Apakah kalian juga pernah road trip Pulau Bali? Jalur mana yang kalian tempuh?

6 comments:

  1. Bali tetap saja cantik Walau dijelajahi dengan random. Tidak kuatir juga nggak dapat penginapan Soalnya di setiap sudut pasti ada hotel atau Homestay. Foto-fotonya bagus Kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh terimakasih... mobilnya juga bagus kaaan? haha- mobil pinjaman bangga

      Delete
  2. Seru juga ya road trip meski separo pulau. Jadi ingin ikuti jejaknya, nggak terikat waktu dan nggak muluk buru banyak destinasi yang penting enjoy holiday. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru dong... lha pada dasarnya liburan kan begitu yes, menikmati setiap detik, menikmati waktu tanpa ikatan.

      Delete
  3. Habis budget berapa untuk road trip separo pulau bali kali ini, Mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berapa ya... entahlah tapi sepertinya cuma dua atau tiga kali ambil duit di ATM, jumlah maksimum itu lho berapa rupiah ya... ah sori lupa soalnya banyak angka nul-nya...

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)