6 Hal Menyenangkan di Ubud


Pada akhirnya kami menemukan monyet kesayangan di Monkey Forest. Pada malam hari ketika sudah gelap, ada Legong dan Barong yang mistis di halaman sebuah pura di Ubud. Dan Empat hal lainnya yang secara mengejutkan kami sukai di Ubud. Ada apa saja? Selamat membaca...


Road trip separo Pulau Bali terus berlanjut. Setelah menginap dua malam di Kintamani yang ceritanya aku tulis disini, maka perjalanan selanjutnya adalah menuruni jalanan indah dari Penelokan menuju Ubud. 

Sesaat setelah turun dari dataran tinggi Kintamani dan memasuki sebuah desa, kami tidak tersesat melainkan berusaha menyesatkan diri dengan tidak mengikuti navigator GPS. Kami melintasi pedesaan yang asri, persawahan dan kebun silih berganti, ada terasiring yang spektakuler, dan.... pada akhirnya tanpa diduga memasuki Ubud. Rasanya dekat sekali perjalanan dari Kintamani ke Ubud padahal kami belum puas berkendara.

Ya okelah, inilah enam hal menyenangkan yang kami lakukan di Ubud.

1. Bermain Bersama Monyet Monkey Forest

Belajar Selfie

Monyet yang ada di Monkey Forest adalah highlight, mereka adalah bintang dari segala bintang bagi siapapun yang berkunjung ke Ubud, dan tentu saja mereka adalah bintang kesayangan kami berdua.

Rencananya kami akan masuk ke Monkey Forest setengah hari saja, dan tengah hari nanti akan shopping, eh tapi saking lucunya monyet-monyet itu, pada akhirnya pak pecalang mengusir kami dengan cara yang sopan agar keluar dari hutan karena segera tutup. Kami adalah pengunjung terakhir, yang datang sejak hutan baru buka.

Siapa yang tidak suka dengan anak-anak monyet itu? mereka begitu kecil, imut, lucu, apatis dan cuek. Kadang bertingkah manja dan selalu ingin tahu apapun yang kami bawa. Bahkan Thomas mengajari salah satu dari mereka untuk selfie, bisa lho..

Ada saja bocil monyet yang mengajak kami bermain, ada yang minta gendong, naik begitu saja ke pundak, rogoh-rogoh saku celana, cari kutu di rambut kepala kami, ikut jalan, rebutan botol minuman....

Ngemil dulu ah....

Panduan bermain bersama moyet di Monkey Forest (dikutip dari pecalang):
- Jangan pernah berusaha pegang monyet dewasa, mereka bisa liar. Tapi kalau kamu yang digerayangi maka kamu harus nurut, sekali lagi jangan melarangnya. Bermain hanya dengan anak-anak monyet saja.
- Jangan pernah menyembunyikan pisang di dalam saku atau tas. Mereka dengan mudah akan tahu bahwa kamu punya pisang dan itu sangat riskan. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pisangmu.
- Jika terancam berteriaklah, pecalang ada dimana-mana siap membebaskan pengunjung dari perkosaan monyet. Nah anehnya, semua monyet yang ada di hutan ini takut pada pecalang. Entah mengapa, mereka hanya takut, kemudian lari dan tidak berani melawan. Kami sudak mengamati tingkah mereka seharian jadi sangat tahu adat ini.

Monkey forest sendiri adalah sebuah konsep hutan lindung yang hebat. Sulit untuk mempercayai bahwa hutan belantara yang sangat rindang ini berada di tengah-tengah kota.



2. Shopping


Ooohhh... kalau saja koper kami muat, tentu aku akan membeli semua kerajinan tangan yang ada di pasar seni Ubud. Semuanya bagus, semuanya unik, dan semuanya murah...!
Tetapi begitulah kenyataannya, ada beberapa jenis kayu yang akan di cekal jika kami nekat membawanya ke Jerman, dan semua cinderamata yang bahan bakunya sebagian atau seluruhnya berasal dari laut tak akan pernah lolos dari pemeriksaan di bandara Hamburg. Dan kami juga tahu diri kok, demi ekosistem dan kelestarian alam, tentu saja kami tak akan membelinya.

Tetapi lihatlah... semuanya cantik-cantik, unik dan indah. Cuma dari melihat saja, aku langsung punya ide mana yang akan aku pajang di dinding mana, taruh di lemari mana, yang ini untuk sudut taman sebelah sini, yang itu bagus untuk sudut sana, perkakas ini cocok untuk menjamu teman-teman pada musim dingin, yang itu buat acara grill party di paviliun, yang ini buat oleh-oleh emak mertua, yang itu buat keponakan, aku juga ingin kasih hadiah buat Sven, Ina, Torge.......

Banyak yang sudah kami beli di pasar seni Ubud, dan pada perjalanan menuju Kuta, kami mampir ke pasar seni Sukawati. Ternyata disini sama hebohnya!



3. Melihat Burung Bangau Pulang Kandang


Tiga kilometer keluar dari Ubud melewati jalan menuju Kitamani, ada sebuah banjar/desa bernama Petulu Gunung. Pada sore hari sesaat sebelum matahari terbenam, di banjar ini akan ada ratusan bahkan ribuan burung bangau, kuntul dan blekok (yang kesemuanya dikasih nama burung Kokokan/Heron untuk memudahkan penyebutan) pulang kembali setelah seharian berkelana mencari makan di seantero pulau Bali.
Indah sekali mengamati rombongan burung terbang mendekat dalam rombongan-rombongan kecil datang dari segala arah. Mereka terlihat anggun dan bersahaja terbang di atas hamparan sawah teras iring yang dinaungi sinar keemasan sesaat sebelum matahari tenggelam.
Begitulah, Petulu Gunung adalah rumah burung Kokokan.

Petulu Gunung sendiri merupakan sebuah desa yang rindang dengan pohon-pohon, sungai dan sawah. Sebuah desa asri dan sunyi yang sangat menjunjung tinggi adat keseimbangan alam. Oleh sebab itulah burung kokokan merasa betah disini. Apalagi ada aturan adat untuk menjaga dan melindungi kelestarian burung kokokan. Berdasarkan aturan adat, tak ada seorangpun yang boleh mengganggu kenyamanan burung kokokan  di desa ini.

Kami menikmati pemandangan spektakuler ini di lantai dua bale banjar Petulu Gunung. Tak ada karcis masuk atau apapun untuk pergi ke sini, namun alangkah menyenangkannya jika pengunjung membeli sebotol atau dua botol minuman dingin yang dijajakan oleh seorang Bli di situ.


4. Nonton Tari Legong dan Barong, dan Kecak


Selama tinggal di Ubud kami menginap tepat di tengah kota, tepatnya di Jalan Sugriwa (sempalan Jalan Raya Ubud). Satu blok dari Jalan Sugriwa ada Jalan Hanoman. Di Jalan Hanoman berdiri Pura Kloncing. Nah di Pura Kloncing inilah terdapat pentas seni secara bergantian pada hari-hari yang telah terjadwal.
Waktu itu hari selasa, dan berdasarkan jadwal akan dimainkan musik dan tari Legong dan Barong, tentu saja dengan bergembira kami langsung menuju tempat pementasan.

Pertunjukan musik dan tari Legong dan Barong diadakan setiap hari selasa jam 7.30 malam. Pada hari yang lain akan ada Tari Kecak. Hotel tempat menginap sangat tahu dengan jadwal pertunjukan di Pura Kloncing.

Itu adalah pementasan tradisional model dahulu kala, jadi tak ada panggung samasekali, yang ada adalah hamparan karpet di halaman depan pura, disitulah pertunjukan berlangsung, sama seperti jaman dahulu kala. Sinar dan cahaya juga diatur seperti jaman dahulu. Benar-benar pertunjukan adat original.

Tiket masuk murah, hanya 60 atau 80 ribu, pokoknya tak sampai 100 ribu untuk pertunjukan sekitar satu jam. Penonton akan duduk pada kursi sederhana mengitari setengah halaman pura.


5. Santai Sejenak


Day dreaming, me time, jalan-jalan sore, ngopi sore hari sembari melihati orang-orang, bersantai ngobrol bersama turis lainnya pada malam hari... Ubud adalah tempat yang pas untuk itu.

Dini hari, ketika matahari baru saja muncul, aku pergi ke pasar pagi yang letaknya di lantai dasar pasar seni. Banyak sekali yang unik, semua yang segar-segar ada di sini, yang manis-manis juga ada. Dan aku membeli beberapa kue tradisional khas Bali.




6. Eat Pray Love


Baiklah aku suka bagian yang 'Eat' saja, yang pray biarlah dilakukan oleh jegeg-jegeg Ubud yang manis-manis itu setiap pagi dan senja hari dengan sesaji canang di seantero kota, sedangkan buat yang sedang mencari cinta bolehlah making love....

Salah dua kuliner unik dari Ubud adalah babi Guling Ibu Oka dan Bebek Bengil khas Ubud. Mereka adalah makanan wajib coba jika sedang berkunjung ke Ubud.

Restoran Bebek Bengil letaknya bersebelahan dengan Monkey Forest, mudah ditemukan dan semua orang tahu restoran ini. Sebuah restoran dengan pengaturan yang luas dan bagus. Menu kesukaanku adalah 'The Original Crispy Duck' pakai nasi (terpengaruh nama resto-nya mungkin ya). Thomas memilih 'Tender Lemon Chicken Breast'.

Babi guling Ibu Oka kelezatannya tak ada yang menandingi di seantero pulau. Terletak tepat di seberang jalan Pasar Seni Ubud dan berhadapan dengan Puri Agung raja Ubud (atau sesuatu seperti itu; rumah tinggal keluarga kerajaan Ubud).

Cobalah pilih 'menu komplit' yang terdiri dari seporsi nasi, sambal, lawar, daging babi guling, kulit babi guling yang renyah, dan sosis hitam khas Bali.


 Apakah kalian sudah pernah ke Ubud? Hal apa saja yang paling kalian sukai di Ubud?




8 comments:

  1. Replies
    1. Kalau Bebek bengil tidak haram kaaan...?

      Delete
  2. terimakasih infona ;) , banyak juga makanan halal disana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama ;)
      Iya, banyak yang halal juga, tak terhitung jumlahnya. Ubud multi-religion kok, jangan kuatir kalau main ke sana :)

      Delete
  3. Aduh mas Bedjo. Gara gara baca cerita ini jadi ingat dulu pas di Indo, aku ke Bali ya maunya cuma ke Ubud (walaupun balik ya singgah ke Seminyak yg ada bar bar itu lah hehe) Ubud itu the heart of Bali, tempatnya relax dari suasana kota yg sampek. Enak ya buat meditasi. Kalo ke monkey forest Hati hati barang bawaan. Monyet ya suka nyari (klepto). Aduh pengen liburan ke Ubud lagi nih ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke Seminyak yang ada bar-bar asik itu? ya harus dong ya, tunggu saja kelanjutannya ya... road trip ini akan ditutup dengan closing party heboh di Seminyak ;)

      Delete
  4. Ubud mmg berjuta pesona, santai2 disana juga manja. Eh aku blm pernah liat burung di pulang kandang itu, kayak nya perlu kesana nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong... gak ada bosannya main ke Ubud. Burungnya itu... terlihat spektakuler sekali terutama buat yang suka alam ada satwa, menikmatinya sembari minum santai-santai saja...

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)