Tak Ada Alasan Mengunjungi Trunyan



Misterius, gelap, terisolasi, tradisional dan seram. Itulah anggapan semua orang tentang kuburan Trunyan dan desa tradisional yang ada di dekatnya. Kuburan Trunyan terletak tepat di tepian danau Batur. Di belakang kuburan ini, dan juga kanan kirinya adalah tebing terjal dengan kemiringan hampir 90° sehingga tak ada jalan akses menuju kuburan mistis ini. Sementara areal pekuburan yang mayatnya tidak dikubur melainkan diletakkan begitu saja di atas tanah, adalah hutan lebat dengan sebuah pohon raksasa penetral bau mayat.

Cara satu-satunya untuk mencapai kuburan Trunyan adalah dengan menaiki perahu dayung melintasi danau Batur.

Inilah cerita kami senam jantung ketika mengunjungi kuburan mistis Trunyan......


Apa yang kami dapat setelah sampai di desa adat Trunyan? Tak ada bagus-bagusnya sama sekali!

Desa Trunyan yang menurut kabar angin adalah sebuah desa tradisional tipikal Bali yang anggun, cantik dan bersahaja itu ternyata tidak ada. Jika aku berkata tidak ada maka itu benar-benar tidak ada. 

Pada kenyataannya setelah kami sampai di sana, yang kami lihat adalah sebuah desa kumuh, sempit dan jorok dengan gang-gang kecil becek tergenang air ledeng bocor atau air dari selokan yang meluap diantara rumah-rumah tak terawat berdinding batako telanjang beratap seng. Kami berusaha mencari sudut indah desa ini dengan berjalan memasuki gang-gang sempit, tetapi ternyata tidak ada.

Padahal tadinya kami beranggapan bahwa kami akan pergi dan melihat rumah-rumah tadisional model Bali yang anggun berada pada sebuah desa bersih, hijau dan damai. Kemudian kami akan menikmati suasana dengan duduk-duduk membeli minuman pada sebuah warung. Harapan tinggal harapan.....

Kami sampai di pelabuhan pinggir danau desa Trunyan.  Tempat ini seharusnya indah sekali dengan latar belakang pedesaan dan bukit hijau terjal di belakangnya. Sementara nun jauh di depan, di seberang danau sana terlihat gunung batur yang megah.

Tapi ya begitulah, sampah ada dimana-mana. Aku kasihan dengan anak-anak yang berenang di pelabuhan, mereka layaknya berenang di kolam sampah saja, yang berair hijau kotor.
Aku bertanya kepada seorang Bli pendayung sampan ketika kami akan pergi ke kuburan, di manakah letaknya desa tradisional Trunyan soalnya sepertinya kami salah tempat, eh dia bilang ya itu tadi desa Trunyan. Katanya, dia kasih penjelasan tanpa ditanya,  beberapa waktu lalu datang angin besar yang memporak-porandakan desa sehingga rumah tradisionalnya roboh semua dan hanya tersisa pura.
Benarkah? Sudahlah...!

Sejauh ini yang bisa kami nikmati hanyalah ketika berada di atas perahu dayung menuju kuburan Trunyan yang mistis.... Suasana di danau ini benar-benar tenang dan sunyi. Yang terdengar hanyalah gemericik air dan kicauan burung di tebing yang ditumbuhi pohon lebat. Tetapi sayang sekali kami harus turun dari perahu karena sudah sampai di tambatan dan segera mengunjungi kuburan Trunyan.



Tepat di depan tambatan perahu yang terbuat dari kayu, ada sepasang gapura besar. Di dalamnya terdapat sebuah pohon besar berusia tua. Di kanan, kiri dan belakang areal ini adalah tebing batu terjal yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar sampai menghutan. Jadi kuburan ini benar-benar terisolasi.

Ketika memasuki gapura menuju pekuburan, suasana terlihat temaram dan misterius karena rindangnya pohon. Bebatuan yang ada disitu berwarna hijau berlumut. Di atas tatanan batu yang berada tepat di bawah pohon tua ada tersusun beberapa tengkorak manusia. Ada yang sudah mulai berlumut, ada pula yang berwarna putih terang. Sangat mistis.


Beberapa langkah ke kiri dari susunan tengkorak manusia itu terdapat tiga buah kuburan, jasad manusia tergeletak begitu saja di atas tanah, hanya dikurung oleh anyaman bambu. Aku tidak mendekat, dan aku memang tidak ingin melihatnya. Aku tidak ingin memastikan apakah di situ ada jasad manusia.

Tak jauh dari tiga buah kurungan jasad manusia itu.... Ya Tuhaaaaan... Oh my Goooooood....! Lagi dan lagi.... dimanapun tempatnya di pinggir danau Batur ini.... Sampah teronggok begitu saja! Dan ini sudah keterlaluan. Dimanakah penghormatan mereka terhadap orang yang sudah meninggal? Kenapa mereka tega sekali membuang sampah tepat di samping peristirahatan terakhir? sampah plastik, sampah organik, sampah bekas upacara, semua menggunung menjadi satu, tepat di samping pekuburan sakral itu.

Aku ingin mengabaikan saja onggokan sampah yang menggunung itu dan berusaha menyerap hawa mistis kuburan Trunyan. Tapi kok tidak bisa ya... Aura mistis kuburan Trunyan sudah tertimbun dalam onggokan sampah.

Aku merasa rugi telah pergi ke Trunyan dan segera kembali naik perahu dayung, kemudian berjalan buru-buru ke mobil dan berkendara kembali menuju desa Kedisan sebelum naik ke atas menuju Penelokan.

Itulah fakta dan kenyataan yang aku temui di Trunyan. Apakah aku menyarankan kalian untuk pergi ke sana? Biar bagaimanapun juga... Iya! Jika kalian menyukai road trip melintasi jalanan sempit menantang dan suka menikmati perjalanan.

Dari Kedisan (sebuah desa pertama ketika menuruni Danau Batur) menuju desa Trunyan, hanya ada sebuah jalan sempit. Jalannya beraspal bagus dengan belokan, tanjakan dan turunan yang sangat menantang. Di satu sisi ada tebing terjal berbatu dan di sisi lainnya adalah pemandangan danau Batur dari awal sampai akhir tiada henti... sangat mengesankan. Kemudian, karena jalan ini hanya cukup dilewati oleh satu mobil, maka setiap waktu pada semua belokan tajam, kita harus membunyikan klakson keras-keras sebagai pertanda jika ada mobil yang datang dari arah berlawanan. Satunya harus minggir kasih jalan yang lain, begitu seterusnya....

Dan.... aku tidak menyarankan kalian pergi ke Trunyan jika naik perahu motor dari pelabuhan desa Kedisan menuju Trunyan. Terlalu mahal ongkosnya dan terlalu menyita waktu hanya untuk melihat tempat sampah dan desa kumuh.

Jika kalian nekat pergi turun ke Danau Batur, cukup berhenti di desa pertama saja (Kedisan), disini suasananya bagus dan tenang, ada desa damai di pinggir danau dan ada warung-warung buat santai makan dan minum menikmati danau. Tentu saja aku makan ikan di sini tapi Thomas tidak mau, katanya,"Aku tidak akan makan ikan yang berasal dari air kotor dan keruh itu". Jadi dia pilih mie goreng.

Setidaknya hari itu ditutup dengan suasana yang menyenangkan. Kedisan telah menyelamatkan kami.

Inilah foto-foto dari Kedisan....








No comments:

Post a Comment

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)