Toya Bungkah, Ironi Sebuah Desa Wisata



Toya Bungkah adalah sebuah desa asri yang terletak di tepi Danau Batur. Dari Penelokan, dimana ini adalah tempat terindah untuk melihat panorama Danau Batur yang berada tepat di kaki Gunung Batur, kami harus berkendara turun melintasi jalan sempit berkelok-kelok. Ini bukanlah perjalanan yang membosankan tetapi sebaliknya, perjalanan yang sangat mempesona; di tepi jalan sebelah kanan terlihat Danau Batur yang tenang dan damai, sementara di sebelah kiri jalan akan terlihat Gunung Batur yang megah sepanjang perjalanan. Dan jalan yang kami lintasi adalah jalan beraspal mulus yang membelah bebatuan lahar bekas letusan gunung beberapa puluh tahun yang lalu. Disana-sini terlihat pepohonan namun tidaklah banyak. Ini adalah perjalanan yang sangat mengesankan.

Kami sampai di Toya Bungkah dan langsung saja aku menyukai desa indah dan tenang di sebuah sudut tepian danau Batur ini. Ini adalah sebuah desa kecil dan tak banyak orang yang terlihat pada sore hari itu. Beberapa penduduk terlihat berjalan kaki membawa handuk, sepertinya mereka akan mandi sore di danau, belakangan aku tahu bahwa mereka mandi pada sebuah kolam air panas kecil di pinggir danau. Di sela-sela karang hitam yang mendominasi pojokan danau Batur ini terdapat sumber air panas. Pada suatu hari kami juga pernah mandi disitu bersama mereka.




Bungalow yang kami tempati berada tepat di tepian danau, hanya dibatasi oleh sepetak kebun sayuran milik penduduk. Ini adalah pengalaman indah yang tak akan bisa terlupakan sepanjang hidup. Tempat tinggal yang bagus, suasana desa yang tenang dan damai, dan panorama indah yang kami dapatkan.

Pada sore hari kami suka berjalan-jalan di sepanjang tepian danau, kemudian masuk ke pedesaan dan minum kopi pada sebuah warung yang ada, melihat orang-orang desa yang mengisi harinya dengan santai dan menikmati suasana tenang, atau sekedar leyeh-leyeh.....................

Itu adalah kunjungan terakhirku ke desa Toya Bungkah 10 tahun yang lalu. Dan selama itu, keindahan desa Toya Bungkah sudah terpatri sangat kuat dalam ingatanku, aku tak akan pernah bisa melupakan desa yang memukau ini.

Kini aku datang lagi dan dengan bangga akan menunjukkan kepada Thomas sebuah tempat terindah di negeri kelahiranku yang pernah aku kunjungi. Aku akan mengajaknya menginap pada bungalow di tepi danau seperti aku dulu pernah menginap disana.

Tapi ternyata Toya Bungkah telah berubah banyak setelah 10 tahun. Aku samasekali tidak bisa mengenali tempat itu. Nama bungalow tempat aku menginap dulu-pun aku tak tahu, hanya tempatnya saja samar-samar dalam ingatan; Di sebelah kanan kelokan antara danau dan jalan desa.

Jadi kami parkir begitu saja di pinggir jalan dan berjalan menuju kelokan, disinilah bungalow-ku berada. Tetapi aku benar-benar terperangah.

Banyak sekali sampah, dimana-mana ada onggokan sampah. Di selokan teronggok sampah, di tepi jalan sampah berserakan, di kebun-kebun banyak sekali sampah. Sejauh mata memandang hanyalah sampah, dominasi sampah plastik.

Di sela-sela pemandangan sampah itu ada bangunan berdinding tinggi, kami masuk. Rupanya didalamnya adalah kompleks bungalow... sangat mewah, sangat besar, sangat indah. Pokoknya segala jenis kemewahan ada disini. Di kompleks dalam pagar tinggi ini juga ada kolam air panas. Ah... aku tahu sekarang, rupanya bungalow mungil terbuka yang aku singgahi dulu telah menjelma menjadi luxury club ini.

Lha ini bagaimana? dalamnya indah dan kaya, luar pagar penuh dengan sampah dan kemiskinan. Aku jadi bingung antara menginap disini atau membenci klub ini.

Antara sakit hati dan kecewa kami keluar dan berjalan menuju tepian danau. Tentu saja kami tidak bisa karena telah dipagari oleh klub mewah tadi.

Kami menyisir jalan kecil memasuki kebun dan pemukiman yang nauzubilah kotornya, pekarangan liar tak terawat, rumah-rumah jelek berdinding batako telanjang beratap seng, sampah teronggok dimana-mana, kemudian melompati parit yang tidak berisi air melainkan sampah, maka sampailah di tepian danau, dan kami melihat kerusakan alam yang paling fatal disini.

Dulu sekali, air danau batur ini bening seperti kaca, dari kejauhan nampak biru. Sekarang airnya berwarna hijau. Terlihat keruh dan tidak sehat. Entah apa yang telah dilakukan orang-orang, tetapi satu yang pasti bahwa karena satu hal, sebuah rantai kehidupan di danau ini putus, mati, sehingga lumut atau ganggang hijau memenuhi danau. Bukan cuma lumut yang ada di danau tetapi sampah, sejauh mata memandang hanya sampah terapung. Dan tempat-tempat membesarkan ikan.

Saking kecewanya, aku bersumpah bahwa aku tidak akan pernah datang lagi ke Toya Bungkah. Ingatan tentang Toya Bungkah yang indah selama sepuluh tahun dalam hidupku ini hilang seketika dalam beberapa menit.

Tak ada diskusi, aku hanya ingin segera meninggalkan Toya Bungkah dan Kintamani. Kami segera berkendara ke atas, menuju Penelokan kembali, dan langsung ke Kuta. Aku terlalu sakit hati atas kerusakan ini.

Sayang sekali Thomas sudah kangen dengan udara sejuk yang mirip di negaranya jadi dia memohon-mohon untuk tinggal beberapa hari disini. Jadi kami menginap di Penelokan.

Dari Penelokan panoramanya bagus, danau Batur tetap tenang dan indah, gunung Batur juga terlihat gagah perkasa. kalau malam hari ada kelap-kelip lampu di sepanjang tepian danau. Tapi aku tidak mau melihat lampu yang ada di Toya Bungkah, tetap saja ngeri. Jadi aku lihat lampu-lampu di sebelah kanan danau, disitu ada desa Trunyan dan besok kami mau kesana.

Ternyata benar apa yang dilakukan turis harian yang singgah di Penelokan ini. Mereka mampir sejenak di Penelokan, makan siang sembari menikmati panorama dari sini, tak usah turun ke danau, kemudian melanjutkan daily trip mereka ke Singaraja, atau Bedugul atau kemanapun yang penting tak perlu turun ke danau.

Apakah kalian pernah pergi ke Toya Bungkah? Kesan apa yang kalian dapatkan disini?



2 comments:

  1. Belum pernah kesana, tapi aku sumpah bete banget kalau tempat yang cantik jadi kotor ga karuan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan pergi ke sana sebelum dapat kabar bagus bahwa mereka sudah berbenah ya... biar mereka tahu.

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)