Bergembira di Jakarta



Jakarta selalu menjadi tempat transit jika kami berkunjung ke Indonesia dan Jakarta selalu menyenangkan. Setelah sekian lama tidak melihatnya, ternyata Jakarta sudah berubah dari kota metropolitan menjadi megapolitan.

Tahukah kalian bahwa Jakarta adalah salah satu Partnerstadt (Sister City) dari kota Berlin? Umumnya Partnerstadt sering dikaitkan dengan ukuran wilayah dan populasi penduduk. Oleh karena itu, wajar jika ibukota dari beberapa negara menjalin kemitraan, seperti Jakarta dan Berlin.

Jakarta adalah kota yang hijau, bersih, ramah, mewah dan megah. Saking megahnya, aku sampai terbengong-bengong dibuatnya.

Salah satu pemandangan spektakuler adalah ketika memasuki Jakarta dari bandara Cengkareng. Nah sesaat, selama dan setelah Tugu Selamat Datang, terdapat banyak sekali gedung-gedung jangkung dan megah. Aku selalu suka melihatnya, dan membayangkan bisa berbaur dengan orang-orang yang ada di sana.





Untuk transit kali ini, seperti biasa kami menginap di Jalan Jaksa. Di Jakarta kami punya waktu dua hari sebelum terbang kembali ke Hamburg, dan dari Jalan Jaksa inilah kami akan menjelajahi megapolitan Jakarta.

Jalan Jaksa Kehilangan Jiwa

 


Sayang sekali Jalan Jaksa sudah ditertibkan, padahal dua atau tiga tahun yang lalu suasananya meriah sekali, apalagi jika petang menjelang. Waktu itu Jalan Jaksa menjadi meeting point bagi para pelancong dan backpackers untuk berbagi info dan tips sekitar wisata di Indonesia. Kini suasana seperti itu jadi sangat berkurang karena saking tertibnya Jalan Jaksa, suasananya jadi tidak menarik lagi. Cerita kunjungan kami sebelumnya bisa dibaca di sini.

Konon katanya, tempat rekreasi yang disandang Jalan Jaksa telah dicabut. Jadi untuk kunjungan mendatang, kami tidak akan mampir ke Jalan Jaksa lagi.

Wisata Kuliner Jalan H. Agus Salim

 


Ketika senja menjelang, Jalan H. Agus Salim yang bersebelahan dengan Jalan Jaksa menjadi sangat meriah. Secara tiba-tiba, di sepanjang jalan ini akan berdiri warung tenda berderet di pinggir jalan. Tak hanya itu, banyak juga aneka restoran dengan menu bermacam-macam. Ini adalah pusat wisata kuliner yang menyenangkan di daerah ini.

Pada hari pertama, kami makan di warung tenda, memilih sate kambing sebagai menu makan malam. Rasanya nikmat, harganya murah. Senang bisa berbaur dengan orang-orang dalam kegembiraan malam. Tapi sayang sekali kami tidak bisa menikmati makan malam dengan tenang karena sesaat setelah duduk dan pesan makanan, ada seorang bocah mendatangi kami untuk mengemis. Dua menit kemudian datang bapak-bapak menjual buku kepada kami. Tak lama kemudian ada dua orang mengamen, setelahnya ada lagi yang datang menjual permen.... Entah mengapa mereka tidak mau membiarkan kami menikmati makan malam dengan tenang sehingga kami buru-buru menyelesaikan makan malam dan langsung pergi.

Hari selanjutnya kami tidak mau lagi makan di warung tenda dan memilih makan di restoran saja. Sebenarnya aku lebih suka makan di warung tenda tetapi dengan segala gangguan seperti itu, tentu saja sangat tidak nyaman.

Gagal Paham Sistem Transportasi Jakarta



Di Jakarta ada bis City Tour gratis. Kalau tidak salah bis ini mempunyai dua buah jalur, akan berkeliling melintasi tempat-tempat wisata menarik, dan penumpang bisa berhenti sesuka hati di halte-halte dekat tempat wisata dengan sistem hop-on hop-off.
Kami menunggu bis ini di halte Sarinah dekat Jalan Jaksa pada pagi hari. Di halte ini tidak tertera informasi sedikitpun tentang jadwal kedatangan bis, hanya ada papan petunjuk halte City Tour dan rute yang akan ditempuh. Dan itulah masalahnya.
Setelah satu jam menunggu, pada akhirnya kami menyerah. Mungkin karena ini gratis, maka mereka punya prinsip, 'Jangan banyak tanya, gratis = ikuti kemauan kami'.

Kami segera merubah rencana, karena ini sudah menjelang tengah hari maka kami akan shopping saja, di Blok M. Sedari tadi kami melihat bis Transjakarta di seberang jalan hilir mudik, diantaranya bertuliskan Blok M. Maka kami naik tangga penyeberangan menuju halte Transjakarta, beli tiket bis tujuan Blok M.

Petugas kasir memberi kami empat tiket untuk dua orang, kami cuma perlu dua tiket untuk dua orang.  Di tengah bisingnya suara lalu lintas, aku menjelaskan bahwa tidak perlu tiket lain, cuma tiket bus ke Blok M saja, si mbak kasir bilang tidak bisa karena tiket ini tidak bisa dipisah, aku bilang bahwa kami turis dan tidak perlu tiket bulanan itu, dan dia tidak punya ide bagaimana cara menjual tiket bus Transjakarta kepada turis.

Gagal beli tiket bus Transjakarta yang ternyata tidak ramah turis itu, kami naik lagi menuju tangga penyeberangan, kembali ke halte City Tour, dan dari sini naik bis Kopaja  yang mana ini adalah bis yang sangat modern setidaknya tiga puluh tahun yang lalu.
Naik Kopaja dari Sarinah menuju Blok M adalah sesuatu banget. Ramah, lucu dan menyenangkan! Kembali dari Blok M menuju Jalan Jaksa kami naik Kopaja lagi, harga karcisnya hampir gratis.

Bis Kopaja sangat  mudah ditemukan, berwarna hijau kusam dengan tulisan Kopaja warna putih, lebih kecil dari ukuran bis pada umumnya dan memiliki sistem seperti taksi yaitu berhenti naik turun penumpang dimana saja tidak terpaku pada halte. Bis Kopaja mempunyai suara yang lebih kencang dari lajunya.

Tahukah anda? Aku pernah berprofesi sebagai supir bajaj Jakarta dimasa lalu, ceritanya ada disini.

Mega Pasar Blok M 

 


Dulu menurut sejarahnya, Blok M mempunyai pasar tradisional yang kecil, kini pasar itu berubah menjadi mega pasar. Sangat besar dan luas sampai-sampai kami sering kesasar. Entah mempunyai berapa lantai pasar ini. Di pasar Blok M bisa ditemui segala barang yang bisa kamu bayangkan. Ada blok yang menjual segala jenis perhiasan, ada pula aneka mode pilihan. Perkakas rumah tangga atau buku-buku pilihan juga tersedia, tinggal pergi ke blok lain.
Setiap blok ditata dengan rapi menurut jenis barang yang dijual.

Di Blok M juga ada pasar modern yang bagus sekali, namanya Pasaraya, the pride of Indonesia. Disinilah kami berbelanja sepuas hati. Dan kami membenarkan slogan mereka.

Tak ada puasnya kami berbelanja di sini. Ada banyak sekali kerajinan Indonesia yang dijual. Ada pula perhiasan dari Indonesia seperti mutiara, dan aneka macam batik. Harga barang di sini jauh lebih mahal daripada yang di jual di pasar tradisional sebelah, tetapi kualitasnya juga jauh berbeda. Jadi orang bisa pilih sesuka hati, mau harga mahal atau murah, ingin kualitas bagus atau pas-pasan.


Aku membeli dua buah kemeja batik, satu dari pasar modern dan satunya dari pasar tradisional. Kami juga membeli kalung mutiara untuk oleh-oleh dan satu set sarung bantal batik yang cantik.

Kami senang berbelanja di sini dan tidak merasa menyesal membelanjakan uang untuk barang yang bagus dan unik.

Belum puas membaca cerita kami di Jakarta? jangan kuatir, pada kunjungan sebelumnya kami pernah ke TMII dimana itu adalah miniatur Indonesia yang ceritanya ada di sini.



8 comments:

  1. Jakarta kota megapolitan, saya paling lama 3 bulan aja bisa bertahan. setelah itu uring-uringan. Kota impian buat bekerja namun mesti tahan macet dan boros

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa...? tidak suka Jakarta..? wah berarti harus revisi ulang gaya hidupmu... eh aku juga tidak yakin apakah aku suka tinggal di Jakarta soalnya aku hidup di desa yang sunyi damai sejahtera anti macet.... Tapi tetap... Jakarta adalah megapolitan yang glamour dan menyenangkan.

      Delete
    2. Widih, belum tahu aja nikmatnya hidup di Jakarta, hahaaha,..
      Jakarta kece bangat

      Delete
    3. Wah.. Jakarta asik ya bang.... nantilah aku pasti mampir lagi bang.. πŸ‘πŸΌ

      Delete
  2. power ibukota membuat orang dewasa, tegar perkasa...atau lunglai menyerah tak berdaya.... aku cinta jkt heheee

    #KTPJAKBAR

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hore Jakarta - kebanggaan bangsa Indonesia πŸ‘πŸΌ

      Delete
  3. Ah... hubunganku dengan jakarta selalu rumit, kadang cinta kadang benci -- terutama kalau sudah macet. Delapan tahun hidup di Jakarta aku kayanya enjoy2 aja... tapi sekarang aku nggak yakin lagi deh bisa hidup di sana atau nggak, karena sekarang tinggal di desa yang ramah, bebas polusi, dan tidak macet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebay aaah... pakai cinta dan benci segala...
      Tapi Jakarta memang menyenangkan ya, dengan segala macetnya.
      Ngemeng-ngemeng semoga kalian baik-baik saja di England setelah brexit ya Byq...

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)