Traveling Sampai Tua (Piknik Bersama Oma)



Saat ini kami sedang tidak pergi kemana-mana dan untuk sementara tinggal di rumah saja, sampai minggu depan. Winter-pause. Setelah itu kami akan traveling lagi. Dan sekarang aku sedang bengang-bengong cari ide ingin melakukan apa. Seperti orang kurang piknik saja layaknya....

Jadi ini waktunya untuk melamun dan merenung, lihat-lihat foto liburan, senyum-senyum sendiri dan terpesona akan foto-foto piknik dari waktu ke waktu bersama tiga orang oma... Aku sangat terkesan dengan cerita hidup mereka. Sudah setua ini masih juga sering traveling. Padahal mereka berumur 75, 78 dan 80 tahun.

Tiga orang neli (baca: nenek lincah) yang enerjik dan bahagia itu adalah Elna mertuaku dan kakaknya Anne, serta Dine kakak iparnya. Pada akhirnya mereka bersatu-padu setelah pasangan meninggal mendahuluinya. Inilah cerita tiga orang oma yang telah traveling sepanjang hidup mereka bahkan hingga kini, bagaimana mereka mengatur keluarga, gaya hidup dan selalu bisa membiayai traveling dan sangat menikmati hidup mereka. Mereka bercerita dari waktu ke waktu pada saat aku bersama mereka menemani liburan atau sekedar jalan-jalan...





Udara mendekati titik beku, itu adalah pertengahan musim gugur di sebuah pantai sunyi yang terletak di North Sea. Kami baru saja tiba di Blavand, sebuah daerah wisata di Denmark untuk mengunjungi tiga orang Oma yang aku sebutkan di atas. Mereka sedang liburan dan menyewa sebuah rumah wisata di sini, dan kami menyempatkan diri mengunjunginya pada sebuah akhir pekan.

Tidaklah jauh jarak kami tinggal di Nordfriesland yang ada di Jerman menuju Blavand. Hanya empat jam berkendara maka sampailah. Namun karena ini adalah wilayah yang berada di negara berbeda, maka suasananya benar-benar berbeda. Itulah sebabnya mereka suka sekali liburan di Denmark. Setidaknya setiap dua tahun sekali mereka liburan ke Denmark. Denmark adalah negara favorit mereka.


Baru saja kami sampai, mereka sudah sibuk sekali bercerita dengan riang. Tentang nikmatnya hot dog di pelabuhan, salah beli keju di supermarkt yang rasanya tidak enak, tentang pom bensin yang tidak dijaga dan bagimana pada akhirnya mereka berhasil mengisi bensin menggunakan kartu kredit, dan banyak sekali cerita yang bikin ketawa...

"Begitulah, Haris. Selalu ada pengalaman baru setiap kita traveling, dan selalu ada hal baru yang harus kita pelajari. Aku yang sudah tua ini harus belajar menyelesaikan masalah..." Kata Elna padaku sembari tergelak, sebelum kami pergi keluar untuk makan siang.

Elna bercerita bahwa dia bukanlah orang kaya, begitu juga Dine dan Anne. Tetapi rasa sukanya akan traveling telah membuat mereka pernah berkeliling Eropa. Hanya Dine yang tidak terlalu sering liburan karena dia berasal dari Eks Jerman Timur, dimana tingkat kesejahteraannya dulu sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan orang-orang dari barat. 

Kami berangkat liburan bersama ke Mallorca

Aku ingat bagaimana dulu traveling telah mendekatkan aku dengan Elna, sebelum jadi anak mantunya. Jadi ceritanya sebelum merayu anaknya, dekat dulu dengan calon mertua, pasti diterima!๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰.
Dengan ringan aku pernah mengutarakan segala yang ada di pikiranku bahwa traveling membawaku pada kebebasan, perasaan merdeka dan selalu membuka diri pada setiap kesempatan dan suasana. Dan bagaimana aku tidak tertarik untuk menetap di suatu tempat, karena pekerjaanku tidak harus membuatku menetap. Asal ada koneksi internet, maka aku bisa bekerja.

Aku bisa merasakan dia terperangah dengan pernyataanku, tentu saja karena aku adalah pacar anaknya. Sepertinya waktu itu dia beranggapan bahwa pendapatku terlalu berbahaya buat anaknya. Tentang tidak tertarik untuk menetap di suatu tempat.

Lalu dari waktu ke waktu dia menunjukkan foto album liburannya, sejak masih muda, kemudian bersama suami dan anak-anak ketika mereka masih kecil, liburan berdua dengan suami karena anak-anak sudah besar dan meninggalkan rumah, lalu liburan bersama Dine dan Anne setelah suaminya meninggal dunia. Aku terkesan. Sebutlah semua nama negara di Eropa, maka dia akan menunjukkan album fotonya.

Dia telah melakukan traveling sepanjang hidupnya, dan sangat menikmatinya.

"Tetapi kami punya rumah, Haris... Kami telah kemana-mana dan aku akan terus traveling, tetapi pada akhirnya aku bisa pulang karena punya rumah".

Dan lama-lama akupun terpengaruh. Kini aku tidak lagi ingin traveling seperti dulu, melainkan ingin bisa pulang juga. Aku harus punya rumah. Sekarang kami punya rumah untuk pulang.

Winter maupun summer, home sweet home ๐Ÿ˜€

Mereka bertiga telah bekerja sepanjang hidupnya disela-sela istirahat mengasuh anak, tetapi tetap saja istilahnya adalah bekerja. Di Jerman, mengasuh anak adalah bekerja, artinya mendapat tunjangan-tunjangan yang nilainya sama atau hampir sama dengan bekerja. Dengan bekerja, maka mereka telah membayar segala jenis asuransi termasuk dana pensiun dan perawatan.

Itulah sebabnya mereka bisa traveling sepanjang hidup mereka. Asuransi dan pensiun telah dibayarkan, maka tak ada yang menghalangi untuk traveling.

Mereka adalah tipikal golongan menengah orang Jerman, yang mempunyai cuti 30 hari setahun dan gaji yang lebih dari cukup untuk melakukan perjalanan setidaknya tiga kali dalam setahun, setelah dipotong segala macam asuransi, pajak, dana pensiun dan biaya hidup sehari-hari.

Mereka telah berhasil mematahkan niatku untuk jadi nomaden. Aku tidak menyesal karena sekarang kami punya rumah, punya tetangga dan teman-teman dekat, dan mempunyai kehidupan sosial yang menyenangkan.

Dan memang begitulah, aku tidak akan berhenti traveling seperti mereka, sampai tua. Traveling yang lebih berkualitas, dan berkelas.


Rasanya menyenangkan untuk mengundang teman-teman, barbeque pada suatu sore yang hangat musim panas di kebun kami yang indah, sembari bertukar cerita tentang traveling yang telah kami lakukan masing-masing, dan saling berbagi tips tentang sebuah tempat tujuan kami selanjutnya.... Atau sesekali login ke facebook untuk melihat siapakah yang sedang berada di suatu tempat nun jauh di sana....

Traveling menjadikan hidupku sangat berarti. Buat diriku sendiri, partnerku, juga teman-teman dan tetangga yang mempunyai kegemaran sama. Itulah kehidupan kami yang sebenarnya.

Apakah kamu juga tidak ingin berhenti traveling seperti kami? dan menjelajahi dunia sampai tua? Persiapan apa saja yang telah dan sedang kamu lakukan?

12 comments:

  1. Kerennya tiga oma itu. Aku juga ingin seperti itu travelling sampai tua. Tapinya dari sekarang harus memperbanyak nabung dana untuk pensiun...:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Evi, mereka memang menginspirasi ya... Tapi ya begitulah, marilah kita mematahkan rumor yang beredar selama ini bahwa orang Asia adalah orang yang paling tidak peduli dengan masa depan finansialnya... Nabung saja selama pemerintah Indonesia belum punya program dana pensiun buat semua orang, biar kita tetap bisa traveling sampai oma opa....

      Delete
  2. Wuiii seru ya pasti jalan bareng neli (aku baru tau ada singkatan neli! :D). pasti banyak cerita2 seru :)

    Ngomong2, cuti kerja di Jerman itu 30 hari dalam setaun? Wow ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, orang sini dapat cuti selama 30 hari setahun, dan tidak ada istilah cuti bersama. Enak kan?

      Delete
  3. Asyik yaa kalo ada asuransi sama pensiun jd bebas.

    Mudah2an kita di beri sehat dan rejeki melimpah untuk terus bisa travelling

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... yuk sembari nabung sembari traveling asik

      Delete
  4. Ga ada yg ga mungkin ya kalo di Sana......keren....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, dimana saja mungkin kok, yang penting perencanaan. Makasih atas kunjungannya ya...

      Delete
  5. Kisahnya romantis...hangat hatiku membacanya....

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah, benar-benar menikmati hidup ya mas mertua dan saudara2nya..semoga ortu dan mertuaku juga bisa seperti itu aamiin..

    ReplyDelete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)