Keramahan Tulus Orang Belanda



Ini bukan kali pertama aku pergi ke Belanda. Dan setiap kali ke Belanda, aku selalu terkesan oleh keramahan mereka. Sepertinya orang Belanda adalah orang-orang yang paling ramah jika dibandingkan dengan orang lain di Eropa. Maksudku bukan orang Belanda yang bekerja di balik meja pelayanan atau yang langsung berhubungan dengan turis seperti penjual dan sebagainya tetapi semuanya.

Kalau pelayan dan penjual ya semuanya harus ramah dimana-mana tempatnya, itu sudah standar dan aku tidak terkesan. Tapi yang aku bicarakan ini adalah semua orang. Selama nguprek-nguprek benua Eropa, sepertinya hanya di Belanda kami mempunyai lebih banyak kontak dengan penduduk daripada di negara lain, ada saja alasan tak terduga untuk beramah-tamah... Mereka mempunyai selera humor yang menyenangkan dan suka membantu.

Aku sampai tidak percaya bahwa leluhur mereka telah dengan semena-mena dan keji menjajah negara kita selama ratusan tahun... Ah lupakan masa lalu, keep calm and let's traveling....




Kali ini tujuan kami pergi ke Belanda adalah sedikit road trip menjelajah 'Tulip Route' yang ceritanya sudah aku tulis di sini, dan menjemput ponakan beserta nenek mereka di bandara Schiphol. Si ponakan akan melakukan EuroTrip, dan neneknya akan menjenguk anak lelakinya yang sudah puluhan tahun boyongan ke Jerman dan tidak mau pulang๐Ÿ˜„ 

Kami datang sehari sebelum mereka mendarat untuk mengantisipasi keterlambatan, eh meskipun begitu ternyata baru sejam kemudian setelah keluar gate kami bisa bertemu. Begitulah, salah pintu keluar. Kami menunggu di pintu kedatangan 4 seperti yang tertera pada papan pemberitahuan bandara, dan mereka dengan santai keluar dari pintu nomer tiga. Aneh ya..?

Jadi pada sore hari setelah check-in hotel di pinggiran kota Amsterdam, kami ingin pergi ke old Amsterdam yang terletak di tengah kota. Kami sudah tahu alangkah sulit dan mahalnya ongkos parkir di Amsterdam. Maka lebih baik naik metro saja, lagipula sudah penat rasanya berkendara selama 6 jam dari Nordfriesland.

Sore itu suasana sangat sempurna. Udara musim semi terasa hangat, matahari bersinar cerah dan pohon-pohon mulai menghijau. Disana-sini terlihat rumpun tulip yang berwarna-warni. Ini adalah awal bulan mei. Kami berjalan di trotoar dengan santai menuju stasiun metro Gaasperplas, 20 menit perjalanan menuju Amsterdam Centraal station, seperti rencana awal.

Banyak orang berjalan sore itu, rupanya cuaca yang hangat membuat semua orang tersenyum riang. Dimana-mana selalu ada orang tersenyum ramah dan menyenangkan setiap kali berpapasan dengan kami.

Kami sempat kehilangan arah dan bertanya pada seorang yang berpapasan, belum juga sempat bertanya, dia sudah tersenyum lebar dengan ramah kemudian secara detail menjelaskan jalan menuju stasiun.

Sampai stasiun langsung beli karcis kereta. Seperti halnya di Jerman, maka stasiun-stasiun kecil di Belanda juga tidak dijaga, tidak ada penjual karcis, maka belinya harus di mesin karcis. Di depan layar sentuh, ada pilihan bahasa, kemudian step by step beli karcis seperti normalnya di Jerman. Thomas ini orangnya bukan penyuka kendaraan umum jadi dia tidak tahu cara beli karcis, maka aku yang sekali-sekali naik bis dan sepur sudah tahu dengan pasti caranya, jadi aku yang maju.

Sentuh layar sana-sini, eh rupanya si mesin sedang tulalit sementara di belakangku ada seorang emak-emak dengan bocil-bocil yang ramai. Ya sudah aku batalkan beli tiket dan mempersilahkan dia beli duluan. Lha pas dia yang beli, mesinnya kok lancar ya? buktinya tak sampai semenit sudah dapat karcis. Setelah dia selesai maka aku maju lagi.... eh si mesin tulalit lagi... entah kenapa tetapi tidak ada reaksi samasekali. Datang lagi orang mau beli karcis, ya sudah aku tanya bagaimana caranya.

Rupanya si mas-mas ini adalah turis seperti kami dan dia bilang sudah tahu caranya karena sudah dua hari di Belanda. Sembari beli karcis - sembari ngobrol, rupanya dia dari Australia dan sedang melakukan EuroTrip selama empat minggu. Aku berkata alangkah beruntungnya dia tinggal di Australia, dia jadi heran dengan pernyataanku dan bertanya mengapa.

"You see now... kami baru saja berkendara selama 6 jam dan tiba-tiba memasuki negara dengan bahasa dan sistem yang benar-benar berbeda, sampai kesulitan beli karcis metro. Sementara kamu, sejauh berkendara di negaramu, tetap saja dimana-mana orang-orang berbahasa Inggris, sistem yang sama dimana-mana, dan mempunyai mata uang yang sama pula..."

Dia tergelak dan berkata bahwa dia menyukai perbedaan yang ada di Eropa. Katanya unik dan lebih bervariasi, tidak monoton seperti di Australia.

Singkat cerita si mas Aussie juga tidak berhasil mendapatkan karcis. Dan kami sama-sama dalam kesulitan.

Rupanya tanpa kami sadari, sedari tadi ada seorang emak-emak yang juga akan membeli karcis berdiri di belakang kami, maka kami mempersilahkannya dan bertanya apakah aku boleh melihatnya bagaimana caranya beli karcis. Dia tersenyum dengan riang sembari mempersilahkan kami menontonnya. Cuma sentuh sana-sini seperti tadi, memasukkan koin, dan karcis langsung keluar.

Aku jadi merasa bodoh.

Kemudian mencoba beli lagi, eh mesinnya tulalit lagi... Semua orang jadi tergelak dan si emak-emak Belanda-pun maju beli karcis buat kami, eh bisa keluar karcisnya.... Akupun bertanya apakah dia punya ilmu sihir, si mas Aussie lebih gokil lagi pertanyaannya, apakah orang belanda tangannya dipasangi chip untuk beli karcis.... Sembari berlalu dia tertawa dan berkata membesarkan hati kami, "Ya... mesin ini memang bodoh... kadang dia bertingkah seperti anak gadis yang banyak maunya..."


Sore itu kami melewati waktu yang sempurna di kota tua Amsterdam. Beli kroket, makan malam, sedikit belanja, jalan ke red light distric, masuk sebentar ke coffee shop... asik dan santai.

Hari sudah larut malam ketika kami kembali naik metro menuju hotel. Kali ini mesin karcis tidak bertingkah. Tapi setelah turun dari metro dan berjalan menuju hotel, kami sama-sama menyadari bahwa malam belum terlalu larut, ya sudah, beli minum dulu barang segelas atau dua gelas Heineken... Kami menghabiskan waktu di bar dengan orang-orang lokal yang ramah dan menyenangkan...

Cerita selanjutnya adalah... ngantar ponakan yang ingin lihat kincir angin di Kinderdijk. Aku tidak tahu ada desa ini sebelum ponakanku minta antar ke sana, dan ternyata tempat wisata ini sangat terkenal di Asia. Banyak sekali bis rombongan berisi turis Asia datang ke Kinderdijk. Pantaslah ponakanku ngajak ke sini.


Lalu ponakanku dan istrinya melanjutkan EuroTrip mereka naik bis murah meriah Flixbus menuju Paris, dan kami membawa emakku pulang ke Jerman.

Hari-hari berlalu, kami sangat menikmati kunjungan tamu-tamu dari Indonesia dan dengan suka hati mengantar mereka kemanapun tujuannya. Sampai tiba saatnya mengantar mereka kembali ke Schiphol untuk terbang ke Jakarta.

Kami menginap semalam di Belanda, tak jauh dari Amsterdam, pagi hari pergi mengunjungi Volendam, sebuah kota mungil yang terletak di pantai. Ternyata kota yang mempunyai pelabuhan tua ini sangat terkenal di Indonesia. Di sini banyak studio foto yang menyediakan pakaian tradisional. Banyak tokoh terkenal dari Indonesia yang fotonya terpajang di etalase sedang berpose dalam pakaian tradisional. Pantaslah ponakanku mita antar ke sini.

Emakku sangat terkesan dengan keramahan orang Belanda, dia tidak menyangka bahwa wong Londo yang dulu terkenal bengis menjajah itu sangat ramah dan selalu tersenyum. Dia bilang, setiap kali berpapasan, mereka selalu tersenyum ramah...

Apakah kamu sudah pernah pergi ke Belanda? Apakah menurutmu orang Belanda juga ramah dan menyenangkan?

8 comments:

  1. Jadi pengen ke Belanda :-)

    Trimakasih mas. Sangat inspiratif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Niatnya memang gitu mas, bikin yang baca jadi pengen ke Belanda ;)
      Trimakasih juga mas, sangat menyenangkan komentarnya.

      Delete
    2. Kembali kasih, mas :-)
      Saya bahkan berharap bisa ke Belanda juga bersama kekasih saya.

      Best regards,
      Dino Tirayoh

      Delete
    3. Wihiiii... sip... rencananya heboh, semoga segera terlaksana yes....

      Dan terimakasih untuk email perkenalannya ya, senang dengar kabar dari kamu tapi maaf tidak sempat balas karena sedang sibuk pemekaran eh traveling. Jadi ya gini saja komen-komen ringan.

      Good luck for you ya....

      Delete
    4. Oh, terimakasih sudah membaca email saya, Mas. Terimakasih atas pertemanannya yang hangat.

      Semoga di lain waktu kita bisa sharing banyak hal.

      :-)

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Eh orang Belandanya ibu-ibu sama yang ngasih petunjuk ya? Yang satu lagi turis dari Australia ya?
    Berarti suasana Belanda bikin orang jadi baik ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi begitu ya, tapi selalu saja kalau kami ke Belanda, mereka itu ramahnya luwes gitu lho... seneng aja jadinya...

      Delete

Jangan mengambil apapun kecuali manfaat - Jangan meninggalkan apapun kecuali KOMENTAR... Okay deh, terimakasih atas komentarnya, sangat dihargai :)